Pendidikan Anak

renungan sejenak

rasa malu

MWI Kebarongan | Rabu, 21 Januari 2015 - 11:55:35 WIB | dibaca: 1447 pembaca

RASA MALU

Marilah kita senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah SWT dan senantiasa menjaga dan memelihara iman hingga akhir hayat kita.

Dengan iman dan taqwa kepada Allah maka Allah akan melimpahkan kepada kita barokah dari langit dan bumi sebagaimana firman-Nya :

 

 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami siksa mereka karena perbuatan mereka itu.” (QS. Al A’raf: 96).

Iman itu terdiri dari enam rukun yang wajib kita yakini dan kita amalkan. Kemudian iman itu sendiri ada beberapa cabang sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. :

اَلْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةٌ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِ (متفق عليه).

Iman mempunyai cabang sebanyak enampuluh cabang lebih dan rasa malu adalah satu cabang dari keimanan.” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam hadis ini Rasulullah saw menjelaskan bahwa diantaranya sekian cabang iman salah satunya adalah rasa malu. Maka orang yang beriman sudah seharusnya memiliki rasa malu ini.

Dalam kehidupan kita di masa sekarang ini rupanya rasa malu ini mulai luntur dan hampir hilang. Kita saksikan sekarang ini yang namanya perbuatan tidak baik malah ditampakkan. Kekejian, kriminalitas, dan kecurangan dipertontonkan. Kemaksiatan, mengumbar aurat sampai perselingkuhan atau perzinaan seakan-akan sudah menjadi hal biasa dan lumrah. Bahkan menjadi tayangan harian di berbagai media, terutama televisi dan internet. Ada orang yang berbuat maksiat malah direkam kemudian ditampilkan di internet. Ini menunjukkan bahwa rasa malu telah terkikis dari dalam sanubari. Ini juga menunjukkan bahwa iman yang dimiliki kian menipis.

Sebaliknya malah justru ada orang yang malu untuk berbuat kebaikan. Malu untuk melakukan berbagai amalan shalih yang diperintahkan oleh agama Islam. Ini tentu saja keliru.

Rasa malu yang termasuk kategori cabang iman adalah malu dalam hal kejelekan, kemaksiatan atau dosa. Dengan rasa malu ini seseorang berusaha menahan diri dan membentengi diri dari terjatuh ke dalam kejelekan, kemaksiatan atau dosa tersebut.

Kita diharuskan malu dalam hal-hal yang negatif atau jelek, bukan dalam hal-hal yang positif atau baik. Misalnya, kita malu kalau aurat kita kelihatan. Kita malu kalau orang lain tahu kita telah berbuat dosa.

Rasulullah saw telah bersabda :

إِنَّ مِمَّا اَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُوْلَى إِذَ لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ (البخارى).

“Sesungguhnya ucapan kenabian yang pertama yang didengar manusia : Jika engkau tidak malu maka lakukanlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari).

Jadi, orang yang berbuat sekehendaknya sendiri itu dianggap tidak memiliki rasa malu. Orang yang tidak punya malu biasanya suka berbuat sesuka hatinya meskipun bertentangan dengan norma maupun etika. Ketika seseorang tidak lagi punya etika maka dia sama dengan hewan yang tidak punya malu.

Kita harus menanamkan rasa malu dalam diri kita dan keluarga kita. Kita tanamkan juga kepada anak-anak sedari kecil. Jangan sampai rasa malu itu hilang dari diri kita. Karena rasa malu itu merupakan salah satu cabang dari keimanan.

Marilah kita memperbanyak taubat kepada Allah atas apa yang telah kita perbuat. Barangkali kita telah banyak melakukan perbuatan yang memalukan dengan tanpa rasa malu. Ke depannya jangan sampai hal itu terulang lagi.

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur : 31).   

“Dan Barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al Hujuraat : 11).

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)